PERJALANAN SEJARAH HTCI (HONDA TIGER CLUB INDONESIA)
A. SEKILAS TENTANG HONDA TIGER
Pada tahun 1993, PT Astra Honda Motor (AHM) mengeluarkan varian baru sepeda motor bertipe sport dengan kapasitas mesin 200cc, yaitu Honda Tiger, atau sering disebut juga GL-200. Honda Tiger adalah sepeda motor bertipe sport yang beredar di wilayah Indonesia. Honda Tiger merupakan sepeda motor dengan kapasitas mesin tertinggi yang diproduksi oleh PT AHM. Honda Tiger diproduksi pertama kali oleh PT AHM pada tahun 1993, dan berakhir pada tahun 2014. Produksi Honda Tiger di Indonesia dapat dikelompokkan dalam beberapa generasi, sebagaimana disajikan secara ringkas pada tabel berikut.
PT. Astra Honda Motor (AHM) menghentikan produksi (discontinue) motor Honda Tiger per Maret 2004, namun produksi spare part Honda Tiger akan tetap ada sampai 7 tahun ke depan (tahun 2021). Meskipun begitu, tidak tertutup kemungkinan di masa depan akan ada penerus Honda Tiger, karena PT AHM menyadari keberadaan klub-klub motor Honda Tiger yang ikatan persaudaraanya sangat kuat di Indonesia.
B. PERIODE PRA PEMBENTUKAN HONDA TIGER CLUB INDONESIA
Honda Tiger memperoleh sambutan yang positif dari pasar Indonesia, yang ditunjukkan oleh banyaknya pemilik dan pengguna Honda Tiger di berbagai kota di Indonesia. Para pemilik Honda Tiger di berbagai kota di Indonesia, kemudian membentuk klub/komunitas Honda Tiger. Pembentukan klub/komunitas Honda Tiger di berbagai kota di Indonesia, dapat dikelompokkan pada 2 (dua) periode utama, yaitu: (1) Periode Pra HTCI (1993-2004), dan (2) Periode Pasca HTCI (2004-sekarang). Pada periode tahun 1993-2003, telah terbentuk klub/komunitas Honda Tiger di berbagai kota besar di Indonesia, seperti di Bandung, Jakarta, Jogjakarta, Semarang, Surabaya, Denpasar, Lombok, Makasar, Gorontalo, Menado, Palu, Banjarmasin, Samarinda, Balikpapan, Pontianak, Medan, Pekanbaru, Padang, Bengkulu, Palembang, dan Lampung. Tonggak awal klub motor Honda Tiger di Indonesia adalah berdirinya Tiger Association Bandung (TAB) di Bandung pada 23 Mei 1994.
Pada periode 1993-2004, terdapat sejumlah kegiatan yang mempertemukan berbagai klub/komunitas Honda Tiger dalam rangka mencapai 3 tujuan utama: (i) membentuk dan meningkatkan rasa persaudaraan dan solidaritas diantara sesama pemilik motor Honda Tiger, (ii) memberikan manfaat sosial yang positif dari keberadaan klub/komunitas motor Honda Tiger bagi masyarakat luas, dan (iii) meningkatkan kesadaran dan kedisiplinan para pemilik Honda Tiger terhadap keamanan dan keselamatan berkendara di jalan raya. Kegiatan klub/komunitas motor Honda Tiger yang berskala besar dan mendapat liputan media massa pada periode 1994-2003 disajikan pada Tabel 2. Kegiatan-kegiatan ini bisa dianggap sebagai upaya pengkondisian untuk menghimpun klub-klub motor Honda Tiger ke dalam organisasi berskala nasional (Indonesia).
C. PERSIAPAN DAN DEKLARASI PEMBENTUKAN HONDA TIGER CLUB INDONESIA
Proposal awal tentang pendirian wadah klub motor Honda Tiger berskala nasional (Indonesia) disusun oleh Teddy Supriadi, untuk memenuhi permintaan Indra Panca sebagai Koordinator Persiapan Pembentukan wadah tersebut. Selanjutnya, proposal awal yang disusun oleh Teddy Supriadi dibahas dalam kegiatan diskusi di sekretariat TAB, jalan Virgo Bandung, pada bulan September 2003, yang dihadiri oleh Teddy Supriadi, Indra Panca, Benny Adityo, Saeful Arifin, Rudi Karpidol, dan Erland Friorie. Setelah draft proposal itu tersusun sebagai hasil akhir diskusi, kemudian ditunjukkan oleh Indra Panca kepada Rio Harahap (JTC), yang memberikan tanggapan positif dan selanjutnya membicarakan proposal itu dalam lingkup Asosiasi Tiger Jakarta (ATJ), yang beranggotakan 5 klub motor Honda Tiger (JTC, JHTC, BTO, BMJ, MTC). Selanjutnya, Indra Panca, Teddy Supriadi dan Rio Harahap secara intensif membahas desain organisasi yang akan dibentuk, terkait dengan nama organisasi, struktur organisasi, dan AD/ART. Pembahasan intensif ini berlangsung dalam rentang waktu September 2003 sampai dengan Mei 2004. Dalam pertemuan-pertemuan tersebut disepakati nama organisasi yang menghimpun berbagai klub motor Honda Tiger di seluruh Indonesia itu adalah Honda Tiger Club Indonesia (HTCI). Nama organisasi HTCI, digunakan pertama kali pada acara Jambore Nasional HTCI di Pantai Slaki, Lampung (29-30 Mei 2004). Rencana awalnya, Deklarasi organisasi HTC I semula akan dilakukan di acara ini, namun batal dilaksanakan karena ada musibah wafatnya salah seorang peserta di lokasi acara. Setelah deklarasi organisasi HTCI gagal diselenggarakan di Lampung, 3 (tiga) orang perumus ini melakukan proses persiapan yang lebih intensif dan menyepakati bahwa deklarasi HTCI akan dilaksanakan pada acara 1 Dekade TAB, yang diselenggarakan pada 9-10 Oktober 2004. Dalam acara tersebut dilakukan 3 (tiga) agenda utama, yaitu: (i) Perayaan 1 Dekade TAB, (ii) Pembuatan rekor IBOR (Indonesian Book of Record) berupa parkir motor Tiger terbanyak di landasan parkir pesawat, dan (iii) Musyawarah Nasional (Munas) I dan Deklarasi HTCI. Salah satu pertimbangan Deklarasi HTCI dilakukan pada event 1 Dekade TAB adalah asumsi bahwa kegiatan TAB biasanya dihadiri oleh banyak klub-klub Tiger di Indonesia, sehingga dapat dianggap memenuhi prinsip keterwakilan (representativeness) yang memadai dalam proses pengambilan keputusan dan memiliki legitimasi yang kuat. Pelaksanaan Musyawarah Nasional I (Munas I) HTCI dilaksanakan di Wisma Muladi TNA AU Lanud Husein Sastranegara Bandung, pada hari Sabtu, 9 Oktober 2004, mulai jam 22.00 sampai dengan 01.00 (dinihari). Munas I tersebut dihadiri oleh 41 klub Tiger, yang berasal dari wilayah DKI Jakarta (7 klub), Banten (4 klub), Jawa Barat (15 klub), Jawa Tengah (9 klub), Jawa Timur (3 klub), Sumatera (1 klub), Sulawesi (1 klub), dan Nusa Tenggara Barat (1 klub). Dalam Munas I tersebut, komunitas HTML (Honda Tiger Mailing List) juga hadir mempresentasikan eksistensinya, baik di dunia maya maupun dunia nyata. Namun, HTML menyatakan diri tidak bergabung dengan organisasi HTCI. Daftar klub motor Tiger yang hadir dalam Munas I dan menyatakan setuju untuk mendirikan organisasi HTCI disajikan pada Tabel 3
Selain kesepakatan untuk mendirikan organisasi HTCI sebagai wadah klub-klub motor Honda Tiger di seluruh Indonesia, hasil keputusan Munas I yang lainnya adalah:
- Menetapkan Tim Formatur dan Perumus organisasi HTCI yaitu Indra Panca, Teddy Supriadi dan Rio Harahap. Tim Formatur dan Perumus ini bertugas untuk mempersiapkan AD/ART, Struktur Organisasi, regulasi PP (Pengurus Pusat) dan Pengda (Pengurus Daerah), serta aspek Legal Formal HTCI (Akta Notaris). Tim Formatur harus menyajikan hasil penugasan tersebut pada kegiatan Munas II, yang akan diselenggarakan pada Juli 2005 di Semarang.
- Melakukan Deklarasi Honda Tiger Club Indonesia (HTCI) sebagai pernyataan formal dan monumental keberadaan organisasi HTCI di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kegiatan Deklarasi HTCI ini dilakukan pada hari Minggu, 10 Oktober 2004 jam 12.00 wib di Lapangan TNI AU Lanud Husein Sastranegara, Bandung. Ikrar Deklarasi HTCI diwakili oleh Indra Panca, Rio Harahap dan Teddy Supriadi, yang diucapkan secara bersama sama oleh seluruh ketua klub-klub Honda Tiger yang hadir. Acara deklarasi disaksikan juga oleh Kolonel (penerbang) Djamhari, sebagai Komandan TNI AU Lanud Husein Sastranegara. Setelah Deklarasi HTCI, dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng 1 Dekade TAB dan pengumuman hasil pembuatan rekor IBOR (Indonesian Book of Record) berupa parkir motor terbanyak sejumlah 1.553 unit di landasan parkir pesawat.
D. TOURING PERDANA HTCI KE KILOMETER 0
Untuk pertama kalinya, bendera HTCI berkibar di Nusantara melalui kegiatan Touring Perdana HTCI, dengan konsep bernama ‘TOURING PERDAMAIAN NAD’ dengan tujuan Kilometer 0 di Pulau Sabang, Nanggroe Aceh Darussalam. Titik keberangkatan dari Bandung pada hari Minggu, 26 Desember 2004. Peserta Touring Perdana terdiri dari 5 orang, yaitu:
- Indra Panca (TAB)
- Budi (SOTIC)
- Erland Fiori (TAB)
- Anton Kebo (TAB)
- Rudy Karpidoll (TAB)
- Zaki (HTCM)
Pada saat perjalanan di wilayah Puncak, Cianjur, Tim Touring menerima kabar telah terjadi bencana tsunami di wilayah Aceh, sehingga konsep touring berubah menjadi “TOURING PERDAMAIAN DAN KEMANUSIAAN, BENCANA TSUNAMI”. Touring tersebut dilaksanakan mulai 26 Desember 2004 sampai dengan 13 Januari 2005. HTCI melalui 5 orang dutanya berkoordinasi dengan HTCM Medan (Sdr Zaki bergabung dengan 5 duta sebelumnya) mendatangi langsung ke lokasi bencana untuk turut memberikan bantuan moril, dan menyampaikan Sumbangan Materil atas nama keluarga besar HTCI kepada masyarakat yang tertimpa musibah melalui Posko Bencana di kota Banda Atjeh.
E. PERAN PERSONAL DALAM PEMBENTUKAN HTCI
Berdasarkan penjelasan pada bagian sebelumnya, maka perlu ditetapkan peran personal dan institusional (kelembagaan) dalam sejarah proses pembentukan HTCI.
- Inisiator (Penggagas Awal) pembentukan wadah klub Tiger secara nasional (yang kemudian disebut HTCI) adalah utusan/perwakilan klub Tiger yang menjadi peserta Jambore Tiger Indonesia di GOR Saparua, pada 5-7 Juli 2002. Para utusan/perwakilan klub motor Honda Tiger tersebut memberikan mandat pembentukan wadah tersebut pada Indra Panca, Ketua TAB saat itu yang sekaligus bertindak sebagai Ketua Panitia Jambore Tiger Indonesia.
- Pendiri organisasi HTCI adalah 41 klub motor Honda Tiger yang hadir di acara Munas 1, pada 9 Oktober 2004 di Wisma Muladi Lanud Husein Sastranegara, dan sepakat bergabung untuk menjadi anggota HTCI.
- Formatur dan Perumus organisasi HTCI adalah Indra Panca (TAB), Teddy Supriadi (TAS/STOC), & Rio Harahap (JTC), yang ditetapkan berdasarkan hasil keputusan Munas I, pada Sabtu 9 Oktober 2004 di Wisma Muladi, Lanud Husein Sastranegara, Bandung
- Deklarator pembentukan organisasi HTCI adalah Indra Panca, Teddy Supriadi, & Rio Harahap, bersama-sama dengan para ketua klub motor Honda Tiger yang sepakat untuk menjadi anggota HTCI, pada Minggu 10 Oktober 2004 di panggung acara 1 Dekade TAB, Lanud Husein Sastranegara, Bandung.
- Pelaksana Teknis yang bertanggung jawab atas suksesnya penyelenggaraan kegiatan Munas I dan Deklarasi HTCI, adalah Tiger Association Bandung (TAB).
- Sosialisasi Awal HTCI. Kegiatan pertama HTCI adalah Touring ke KM 0 Sabang, sekaligus menyerahkan bantuan sosial untuk korban Tsunami Aceh, Desember 2004.
F. PENGEMBANGAN KEGIATAN ORGANISASI HTCI
Setelah resmi terbentuk, selanjutnya HTCI melakukan pengembangan desain dan kegiatan organisasi. Dalam konteks struktur organisasi, kepengurusan HTCI terbagi kedalam 2 (dua) tingkat, yaitu: (i) Pengurus Pusat (PP), yang mencakup wilayah hukum NKRI, dan (ii) Pengurus Daerah (Pengda), yang mencakup wilayah provinsi atau gabungan provinsi. Terdapat 4 (empat) kegiatan utama dalam tingkat PP HTCI, yaitu: (i) Musyawarah Nasional (Munas), (ii) Jambore Nasional (Jamnas), (iii) Wingday, (iv) Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas). Pada tingkat Pengurus Daerah (Pengda), terdapat 2 (dua) kegiatan utama, yaitu: (i) Musyawarah Daerah (Musda), dan (ii) Musyawarah Kerja Daerah (Mukerda).
- Musyawarah Nasional (MUNAS) HTCI Musyawarah Nasional (MUNAS); dalam kegiatan ini biasanya terdapat 3 agenda utama, yaitu:, (i) Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) PP HTCI sebelumnya, (ii) pemilihan Ketua Umum PP HTCI, dan (iii) penetapan jadwal dan pelaksana kegiatan organisasi PP HTCI (Munas, Mukernas, Jamnas, Wingday).










